Subscribe RSS
Bencana Oct 07

Bencana sering diidentikan dengan sesuatu yang buruk. Paralel dengan istilah disaster dalam bahasa Inggris. Secara etimologis berasal dari kata DIS yang berarti sesuatu yang tidak enak (unfavorable) dan ASTRO yang berarti bintang (star). Dis-astro berarti an event precipitated by stars (peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi).

Daftar isi

[sembunyikan]

//

[sunting] Asal mula

Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah manusia. Manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana (free from disaster). Dalam pergumulan itu, lahirlah praktek mitigasi, seperti mitigasi banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dan lain-lain. Di Mesir, praktek mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang sistim peringatan dini untuk kelaparan (famine) dan kesiap-siagaan (preparedness) dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000 BC, sesuai keterangan kitab Kejadian, dan tulisan-tulisan Yahudi Kuno.

[sunting] Konsep

Konsep manajemen bencana mengenai pencegahan (prevention) atas bencana atau kutukan penyakit (plague), pada abad-abad non-peradababan selalu diceritakan ulang dalam ‘simbol-simbol’ seperti kurban, penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan didasarkan pada Astrologi atau ilmu Bintang.

[sunting] Respon terhadap bencana

Respon kemanusiaan dalam krisis emergency juga sudah berusia lama walau catatan sejarah sangat sedikit, tetapi peristiwa Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada respon bantuan dari negara secara ‘ala kadar’. Jumlah korban meninggal pasca emergency sedikitnya 20,000 orang. Total meninggal diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk.

Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli bencana masih terus mengumandangkan slogan ‘bebas dari bencana’ (free from disaster) yang berdasarkan pada ketiadaan ancaman alam (natural hazard). Publikasi mutakhir tentang manajemen bencana, telah terjadi perubahan paradigma. Sebagai misal di Bangladesh dan Vietnam, khususnya yang hidup di DAS Mekong, yang semulanya bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan untuk hidup bersama banjir (living with flood).

Tentunya komitmen hidup bersama banjir, tetap dilandasi oleh semangat bahwa banjir atau ancaman alam lainnya seperti gempa, siklon, dan kekeringan boleh terjadi tetapi bencana tidak harus terjadi. Di Timor, khususnya masyarakat Besikama, sudah sangat lama hidup bersama banjir. Masyarakat tradisional Besikama sebenarnya sudah mengenal tentang praktek mitigasi banjir berdasarkan konstruksi rumah tradisional mereka sejak lama, yakni rumah panggung, yang sudah sangat tidak popular karena ‘pembangunan’ mengajarkan segala segala sesuatu yang ‘modern’.

sumber ;http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana

Bola voli Oct 07

Bola voli adalah olahraga permainan yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Masing-masing grup memiliki enam orang pemain. Terdapat pula variasi permainan bola voli pantai yang masing-masing grup hanya memiliki dua orang pemain.

Daftar isi

[sembunyikan]

// <![CDATA[//

[sunting] Lapangan permainan

Ukuran lapangan bola voli yang umum adalah 9 meter x 18 meter. Ukuran tinggi net putra 2,43 meter dan untuk net putri 2,24 meter. Garis batas serang untuk pemain belakang berjarak 3 meter dari garis tengah (sejajar dengan jaring). Garis tepi lapangan adalah 5 cm.

[sunting] Cara permainan

Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 terlebih dahulu.

Dalam sebuah tim, terdapat 4 peran penting, yaitu tosser (atau setter), spiker (smash), libero, dan defender (pemain bertahan). Tosser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan. Spiker bertugas untuk memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Libero adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Defender adalah pemain yang bertahan untuk menerima serangan dari lawan.

Permainan voli menuntut kemampuan otak yang prima, terutama tosser. Tosser harus dapat mengatur jalannya permainan. Tosser harus memutuskan apa yang harus dia perbuat dengan bola yang dia dapat, dan semuanya itu dilakukan dalam sepersekian detik sebelum bola jatuh ke lapangan sepanjang permainan. Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain dan mengusahakan untuk mencapai angka 25 terlebih dahulu untuk memenangkan suatu babak.

[sunting] Sejarah

Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette. Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat).

William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William.

Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA, menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.

Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang.

Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).

[sunting] Urutan serve

[sunting] Penghitungan angka

Aturan permainan dari bola voli adalah:

  1. Jika pihak musuh bisa memasukkan bola ke dalam daerah kita maka kita kehilangan bola dan musuh mendapatkan nilai
  2. Serve yang kita lakukan harus bisa melewati net dan masuk ke daerah musuh. Jika tidak, maka musuh pun akan mendapat nilai

[sunting] Sistem Pertandingan

  • Sistem pertandingan menggunakan sistem setengah kompetisi yang terdiri dari 8 tim dan akan

disitribusikan ke dalam 2 (dua) group, masing-masing group terdiri dari 4 (empat) tim.

  • Setiap tim terdiri dari 10 pemain meliputi 6 pemain inti yang bermain di lapangan dan 4 pemain cadangan.
  • Pergantian pemain inti dan cadangan pada saat pertandingan berlangsung tidak dibatasi.
  • Pertandingan tidak akan ditunda apabila salah satu atau lebih dari satu anggota tim sedang bermain untuk cabang olahraga yang

lain.

  • Jumlah pemain minimum yang boleh bermain di lapangan adalah 4 orang.
  • Apabila di lapangan terdapat kurang dari 4 orang, maka tim yang bersangkutan akan dianggap kalah.
  • Setiap pertandingan berlangsung 3 babak (best of three), kecuali pada 2 babak sudah di pastikan pemenangnya maka babak ke tiga tidak perlu dilaksanakan.
  • Sistem hitungan yang digunakan adalah 25 rally point. Bila poin peserta seri (24-24) maka pertandingan akan ditambah 2 poin. Peserta yg pertama kali unggul dengan selisih 2 poin akan memenangi pertandingan.
  • Kemenangan dalam pertandingan penyisihan mendapat nilai 1. Apabila ada dua tim atau lebih mendapat nilai sama, maka penentuan juara group dan runner-up akan dilihat dari kualitas angka pada tiap-tiap set yang dimainkan.
  • Kesalahan meliputi:

o Pemain menyentuh net atau melewati garis batas tengah lapangan lawan. o Tidak boleh melempar ataupun menangkap bola. Bola volley harus di pantulkan tanpa mengenai dasar lapangan. o Bola yang dipantulkan keluar dari lapangan belum dihitung sebagai out sebelum menyentuh permukaan lapangan. o Pada sat servis bola yang melewati lapangan dihitung sebagai poin bagi lawan, begitu juga sebaliknya penerima servis lawan yang membuat bola keluar dihitung sebagai poin bagi lawan. o Seluruh pemain harus berada di dalam lapangan pada saat serve dilakukan. o Pemain melakukan spike di atas lapangan lawan. o Seluruh bagian tubuh legal untuk memantulkan bola kecuali dengan cara menendang. o Para pemain dan lawan mengenai net 2 kali pada saat memainkan bola dihitung sebagai double faults.

  • Setiap team diwajibkan bertukar sisi lapangan pada saat setiap babak berakir. Dan apabila dilakukan babak penetuan (set ke 3) maka tim yang memiliki nilai terendah boleh meminta bertukar lapangan sesaat setelah tim lawan mencapai angka 13.
  • Time out dilakukan hanya 1 kali dalam setiap babak dan berlangsung hanya 1 menit.
  • Diluar dari aturan yang tertera disini, peraturan permainan mengikuti peraturan international.
  • Sistem pertandingan menggunakan sistem setengah kompetisi yang terdiri dari 8 tim dan akan disitribusikan ke dalam 2 (dua) group, masing-masing group terdiri dari 4 (empat) tim.
  • Setiap tim terdiri dari 10 pemain meliputi 6 pemain inti yang bermain di lapangan dan 4 pemain cadangan.
  • Pergantian pemain inti dan cadangan pada saat pertandingan berlangsung tidak dibatasi.
  • Pertandingan tidak akan ditunda apabila salah satu atau lebih dari satu anggota tim sedang bermain untuk cabang olahraga yang lain.
  • Jumlah pemain minimum yang boleh bermain di lapangan adalah 4 orang.
  • Apabila di lapangan terdapat kurang dari 4 orang, maka tim yang bersangkutan akan dianggap kalah.
  • Setiap pertandingan berlangsung 3 babak (best of three), kecuali pada 2 babak sudah di pastikan pemenangnya maka babak ke tiga tidak perlu dilaksanakan.
  • Sistem hitungan yang digunakan adalah 25 rally point. Bila poin peserta seri (24-24) maka pertandingan akan ditambah 2 poin. Peserta yg pertama kali unggul dengan selisih 2 poin akan memenangi pertandingan.
  • Kemenangan dalam pertandingan penyisihan mendapat nilai 1. Apabila ada dua tim atau lebih mendapat nilai sama, maka penentuan juara group dan runner-up akan dilihat dari kualitas angka pada tiap-tiap set yang dimainkan.
  • Kesalahan meliputi:

o Pemain menyentuh net atau melewati garis batas tengah lapangan lawan. o Tidak boleh melempar ataupun menangkap bola. Bola volley harus di pantulkan tanpa mengenai dasar lapangan. o Bola yang dipantulkan keluar dari lapangan belum dihitung sebagai out sebelum menyentuh permukaan lapangan. o Pada sat servis bola yang melewati lapangan dihitung sebagai poin bagi lawan, begitu juga sebaliknya penerima servis lawan yang membuat bola keluar dihitung sebagai poin bagi lawan. o Seluruh pemain harus berada di dalam lapangan pada saat serve dilakukan. o Pemain melakukan spike di atas lapangan lawan. o Seluruh bagian tubuh legal untuk memantulkan bola kecuali dengan cara menendang. o Para pemain dan lawan mengenai net 2 kali pada saat memainkan bola dihitung sebagai double faults.

  • Setiap team diwajibkan bertukar sisi lapangan pada saat setiap babak berakir. Dan apabila dilakukan babak penetuan (set ke 3) maka tim yang memiliki nilai terendah boleh meminta bertukar lapangan sesaat setelah tim lawan mencapai angka 13.
  • Time out dilakukan hanya 1 kali dalam setiap babak dan berlangsung hanya 1 menit.
  • Diluar dari aturan yang tertera disini, peraturan permainan mengikuti peraturan international.

[sunting] Teknik Bola Voli

[sunting] Service

Servis pada jaman sekarang bukan lagi sebagai awal dari suatu permainan atau sekedar menyajikan bola, tetapi sebagai suatu serangan pertama bagi regu yang melakukan servis. Servis terdiri dari servis tangan bawah dan servis tangan atas. Servis tangan atas dibedakan lagi atas tennis servis, floating dan cekis.

Service ada beberapa macam:

  • Service atas adalah service dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian Server melompat untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
  • Service bawah adalah service dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul bola. Tangan yang memukul bola bersiap dari belakang badan untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari bawah.
  • Service mengapung adalah service atas dengan awalan dan cara memukul yang hampir sama. Awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi (tidak terlalu tinggi dari kepala). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek.

Yang perlu diperhatikan dalam service

  • Sikap badan dan pandangan
  • Lambung keatas harus sesuai dengan kebutuhan.
  • Saat kapan harus memukul Bola.

Service dilakukan untuk mengawali suatu pertandingan voli

[sunting] Passing

  • Passing Bawah (Pukulan/pengambilan tangan kebawah)
    • Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
    • tangan dirapatkan, satu dengan yang lain dirapatkan.
    • Gerakan tangan disesuaikan dengan keras/lemahnya kecepatan bola.
  • Passing Keatas (Pukulan/pengambilan tangan keatas)
    • Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
    • Badan sedikit condong kemuka, siku ditekuk jari-jari terbuka membentuk lengkungan setengah bola.
    • Ibu jari dan jari saling berdekatan membentuk segitiga.
    • Penyentuhan pada semua jari-jari dan gerakannya meluruskan kedua tangan

[sunting] Smash (spike)

Dengan membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Teknik smash Menurut Muhajir Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal (2006,23). Menurut pendapat M. Mariyanto mengemukakan bahwa : “ Smash adalah suatu pukulan yang kuat dimana tangan kontak dengan bola secara penuh pada bagian atas , sehingga jalannya bola terjal dengan kecepatan yang tinggi, apabila pukulan bola lebih tinggi berada diatas net , maka bola dapat dipukul tajam ke bawah .” (2006 : 128 ) Menurut Iwan Kristianto mengemukakan bahwa , Smash adalah pukulan keras yang biasanya mematikan karena bola sulit diterima atau dikembalikan . “ (2003 : 143 ) . Spike adalah merupakan bentuk serangan yang paling banyak digunakan untuk menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim dalam permainan voli . Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Teknik Smash atau spike adalah cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan untuk mencapai pukulan keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan. Tes smash Menurut Sandika mengemukakan bahwa tes smash adalah tolok ukur untuk mengukur kemampuan smash.

sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Bola_voli

Category: OLAHRAGA  | Leave a Comment
Sepak takraw Oct 07

Sepak takraw adalah jenis olahraga campuran dari sepak bola dan bola voli, dimainkan di lapangan ganda bulu tangkis, dan pemain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan. Kejuaraan paling bergengsi dalam cabang ini adalah King’s Cup World Championships, yang terakhir diadakan di Bangkok, Thailand.

Permainan ini berasal dari zaman Kesultanan Melaka (1402 – 1511) dan dikenal sebagai Sepak Raga dalam bahasa Melayu. Bola terbuat dari anyaman rotan dan pemain berdiri membentuk lingkaran.

Catatan sejarah terawal tentang sepak raga terdapat dalam sejarah Melayu. Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah (1459 – 1477), seorang puteranya bernama Raja Ahmad telah dibuang negeri karana membunuh anak Bendahara akibat persengketaan ketika bermain sepak raga. Raja Ahmad kemudiannya diangkat menjadi Sultan di Pahang, bergelar Sultan Muhammad Shah I Ibni Almarhum Sultan Mansur Shah.

Pada tahun 1940-an hal ini berubah dengan menggunakan jaring dan peraturan angka. Di Filipina permainan ini disebut sipa, di Burma chinlone, di Laos kator, dan di Thailand takraw.

Peraturannya sama dengan bola voli dengan perbedaan:

  1. pemain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan
  2. pemain atau tim hanya boleh menyentuh bola 3 kali berturut-turut
  3. posisi pemain bertahan tidak diputar

[sunting] Galeri

Dua orang atlit sepak takraw sedang bertanding

Seorang anak bermain dengan bola takraw

sumber ;http://id.wikipedia.org/wiki/Sepak_takraw

Category: OLAHRAGA  | Leave a Comment
Cerita Cekak: “Lasirin Dhagelan Kethoprak” Oct 07

Pengantar:
Cerita ini pernah dipublikasikan di Majalah Mingguan “Panjebar Semangat” Edisi  No. 06 tanggal 8 Pebruari 2003. Dipilih sebagai salah satu cerita untuk Lomba Penulisan Esai  Cerkak Tahun 2003. Para peserta lomba yang mengambil objek cerita ini dan akhirnya meraih sebagai nominator dan  juara lomba antara lain: (1) Moch Nursyahid P (Alm), wartawan dan penulis  senior sastra Jawa dari Surakarta, (2) Sudarni, pengamat sastra Jawa dan dosen  Unessa Surabaya, (3) Sugeng Wiyadi, penulis dan dosen Unessa Surabaya, dan lain-lain. Dalam pengunggahan cerita ini disajikan sesuai aslinya dengan bahasa Jawa, dan dengan sedikit editing pada beberapa paragraf, ejaan dan pembetulan salah tulis.  Untuk ukuran cerkak, cerita ini tergolong relatif  panjang.  Para pembaca harap maklum adanya (Pen).

Lasirin Dhagelan Kethoprak
Dening: Masdjup (Ki Dhalang Sulang)

Paitane Lasirin ora liya ya mung saka rupane sing kawit biyen mula wis katon lucu. Upama dheweke munggah panggung tanpa lorengan ngono para penonton wis mesthi ngguyu kepingkel-pingkel, kepuyuh-puyuh, malah sok nganti kepentut-pentut. Mula saben rombongan kethoprake entuk tanggapan, Lasirin ora nate keri, mesthi melu munggah pangung. Ndhagel. Banjur para penonton padha iwut nguncali wungkusan-wungkusan wujud apa wae. Rokok, jajanan, malah ora kurang sing padha nguncali amplopan isi dhuwit kanggo saweran. Minangka ijole, Lasirin banjur nembang lelagon sing dipesen penonton lumantar tulisan ing dluwang sasuwek sing dikatutake njero wungkusan lan amplopan mau.

Anggone nembang mesthi dikantheni njoged pethakilan sing katon unik lan nganyelake. Yen Lasirin wis tumandang ngono kuwi, penonton saya kranjingan lan gemes banget. Kena-kenoa, Lasirin diangkah supaya terus tetembangan lan jejogedan sewengi natas. Wis ben, ora nganggo lakon-lakonan ya ora apa-apa paribasane.

“Eeeee….. karepe dhewe. Sing ditanggap iki ora mung dhagelan thok lho lur, nanging kethoprak komplit. Nek pengin nanggap khusus dhagelan Lasirin ya sesuk wae. Nanging ya kudu mbayar dhewe lho gus, yu, le, nang, he he he he he….” ngono wangsulane Lasirin karo plerak-plerok nggregetake, nalikane penonton padha alok supaya dheweke terus wae anggone ndhagel. Krungu wangsulane Lasirin ngono mau, para penonton malah nanggapi pating blerok sing ora jelas basane, nanging wose padha marem banget atine.

Cekake, Lasirin pancen wis dadi dhuweke masyarakat pandhemen kethoprak ing wewengkon kono. Jenenge saya moncer. Malah-malah amarga saking moncere, wong-wong padha luwih gampang nyebut kanthi jeneng “Kethoprak Lasirin”, katimbang nyebut jeneng resmi rombongane: Sandiwara Kethoprak Mangun Budaya”. Lasirin kaya-kaya minangka suksmane rombongan kuwi. Tanpa Lasirin wis kena dipesthekake yen Mangun Budaya ora bakal payu tanggapan. Bola-bali wis klakon yen rombongan kethoprak kuwi pinuju pentas nanging tanpa Lasirin, sing nanggap lan penontone pisan mesthi kuciwa.

“Nonton kethoprak Mangun Budaya nek gak ana Lasirin padha karo ora! Mulih mulih!” ngono aloke penonton, banjur katon siji baka siji padha bali kanthi nggawa ganjelan kuciwa ing ati. Sing nonton dadi sepi. Sing nanggap uga melu gela. Mula ora kurang sing banjur padha mangkas bayaran tanggapane, sanadyan dikantheni bengkerengan adu gurung karo pimpinan rombongan kethoprak luwih dhisik.

Ing wektu-wektu iki pancen Lasirin kerep lowok ora melu manggung. Dene sabab musababe ora liya marga dheweke wis katon lara-laranen dipangan taun. Umure pancen wis ngancik eketan munggah. Upama ora krana wis dadi sandhang pangane wiwit enom hengga seprene mono, janjane dheweke wis wegah banget munggah panggung. Apa maneh isih kudu ngonthel sepeda tumuju menyang lokasi pentase. Banjur isih kudu nebar panglipur marang para penontone, sing kepengine mung kudu kepranan atine awit saka geculane, tetembangane, lan solah tingkahe Lasirin ing panggung. Huh! Kesel! Dheweke pancen kesel tenan. Kesel ragane, kesel pikirane, lan uga kesel jiwane. Karo maneh yen dheweke tetep ngaya lan nekad penthalitan kuwi arep nggolekake sapa? Lha wong ya ora anak ora bojo wae!

Kasunyatane dheweke pancen wis ora duwe kulawarga babar blas. Sadurunge manggon ing desane sing saiki kuwi, dheweke ora nate ngandhaake asal usule. Bebasan  dheweke kuwi tanpa dhangka tanpa sengkan, wong kleyang kabur kanginan, akandhang langit akemul mega. Mung wae ana sing nate krungu riwayat asmarandanane. Jare biyen dheweke ya duwe pengankah kaya wong wong akeh kae, yakuwi kepengin mangun bale somah karo sawijining kenya nunggal kampunge. Nanging bebasan dheweke mung keplok tangan sisih. Kenya sing dituju prana kuwi babar pisan ora nimbange katresnane. Ya ora jeneng mokal yen ana prawan sing nolak katresnane. Bandha ora gableg. Apa maneh rupa, paribasane mbuwak mbuntel. Jan ala tenan. Ora ana baguse sithik-sithika.

Wusana dheweke minggat saparan-paran. Nganti tumeka sawijining desa sing nduwe rombongan kesenian kethoprak Mangun Budaya kuwi. Nalika samana sing dadi tetuwanggane Kethoprak Mangun Budaya ora liya Mbah Mangun, bapake Pak Bandi, ketua rombongan sing saiki. Dheweke nekad nglamar dadi anggota rombongan kuwi. Mbah Mangun  gelem nampa panglamare Lasirin, nanging dhapukan sing lowong mung minangka pendhagel. Sanadyan durung nate nglakoni dadi seniman kethoprak, luwih-luwih dadi dhagelan, Lasirin nekad nyaguhi.

Mbok menawa jalaran rupa gawan bayine sing katon ala lan lucu kuwi, sithik baka sithik Lasirin bisa mersudi kabisane ing babagan gecul-geculan. Ndilalah penonton padha nampa kathi senenge ati.Wusana dheweke klakon dadi bintang panggung. Mung wae sajake atine wis kadhung sengkleh ing bab donyane katresnan. Tekade arep mbujang selawase. Uripe mung bakal diudhokake kanggo wong akeh. Aweh panglipur marang sapa wae lumantar ndhagele ing panggung, yen perlu hengga puput nyawane.

Nanging dheweke lali yen kahanan ragane wis ora kena diajak kompromi. Penyakit tuwane arupa loyo lan watuk mengi saya ngrembaka. Mula dheweke banjur kepeksa prei ora kuwagang munggah panggung maneh. Rombongan Kethoprak Mangun Budaya klakon kelangan bintange, sahengga saya surut pamore. Suwene-suwe ora payu tanggapan babar pisan. Pak Bandi minangka jejere ketua rombongan kaya-kaya kentekan akal kanggo nguripake suksmane rombongan kethoprake. Dheweke ngerti banget underan perkarane, gene kethoprake dadi mati? Ora ana liya mung kajaba Dhagelan Lasirin sing klakon pensiun kuwi.

“Apa Pakdhe Lasirin kudu tak peksa munggah panggung maneh ya? Ah! Sajake nglengkara. Njur kepriye caraku kanggo mbalekake nyawane Mangun Budaya? Wis tak jajal golek gantine Pakdhe Lasirin kanggo dhapukan dhagelan, si Marno Singkek kuwi, nyatane ora kepangan dening para penanggap lan pandhemen. Dhuh Gusti, dalem nyuwun kali damar Gusti…… mesakaken lare-lare  sami kecalan sandhang patedhanipun, Gusti…” ngono pisambate Pak Bandi ing batin, wola-wali meh saben wengi, sangsaya ketara pupus panalare.
Sidane dheweke nekad nyoba ngglembuk marang Lasirin. Embuh carane, sing baku Lasirin kudu gelem bali munggah panggung. Ora ana dalan liya maneh. Ya mung iki siji-sijine syarat-sarengat amrih pakumpulan kethoprak Mangun Budaya bali moncer. Mula ing sawijining sore dheweke klakon nyambangi Lasirin ing omahe. Omah cilik balungan  lan gedheg pring sing saya dhoyong sajak arep rubuh. Sadurune mlebu ing omah sing luwih pas disebut gubug kuwi, Pak Bandi unjal ambegan. Landhung banget. Embuh apa tegese unjal ambegane kuwi.

“Sampeyan apa gak mesakake marang kanca-kanca ta, Pak Dhe?  Yen ora ana sing nanggap, anak bojone njur dha dipakani apa coba! Kamangka yen arep padha nyambut gawe liyane ngethoprak, sajake wis padha lali carane. Macul wis dha wegah, mbakul gak dha gableg modhal. Yen pengin dadi pegawe, njur kantor ngendi sing gelem nampa wong mbambungan kaya kanca-kancane dhewe iki? Mula ya, Pak Dhe, aku welasana. Wis ta, sampeyan njaluk apa lan bayaran pira anggere gelem bali manggung maneh!” pangrimuke Pak Bandi marang Lasirin sawise kekarone lungguh lincak pring njero omah kuwi. Sing dirimuk durung kumecap. Mripate kethap-kethip nyawang menjaba, karo sedhela-sedhela watuk menggeh-menggeh.  Ing batine dumadakan tuwuh perang tandhing swara loro saka njero sing padha sorane. Sing siji kepengin ngeman  awak, sijine maneh kudu nglabuhi kanca-kancane. Lasirin gedheg-gedheg. Banjur nggigil maneh.

“Sampeyan… rak ngerti dhewe ta, Lik, awakku… wis gapuk kaya ngene…. Apa ya … isih kuwawa… mbadhut?” wangsulane Lasirin karo menggeh-menggeh ngampet mengine.
“Bisa! Aku yakin sampeyan bisa ngayahi kaya wingi uni. Sampeyan nyimpen kabisan sing ngedab-edabi ing babagan gecul-geculan. Marno Singkek, Nardi Meler, apa dene Jaeman Klithik gak paja-paja yen ditandhing karo sampeyan.  Tenan iki, Pak Dhe! Dene bab penyakite sampeyan mengko bakal tak tambakake nyang  dokter nganti saras.  Piye Pak Dhe?” pandheseke Pak Bandi.

Lasirin unjal ambegan nyendhat-nyendhat. Pak Bandi disawang satleraman. Banjur panyawange dibuwang metu adoh maneh. Sepi. Kekarone dadi meneng-menengan. Sajake padha kentir marang arusing lamunane dhewe-dhewe. Mung kala-kala ajeg sineling gigil watuk saka pendhagel tuwa kuwi. Tangane Pak Bandi kumlebat mijeti pundak lan gulune Lasirin. Nganti sawetara wektu, hengga rada lerem watuke Lasirin. Embuh lerem temenan apa pancen diampet. Pak Bandi tetep sabar  angranti wangsulan saka wong tuwek elek nanging sing tansah dadi klangenane wong akeh iki.

“Ya wis….. nek pancen…. aku isih dibutuhake kanca-kanca…. lan uga…. para warga kabeh…. mengko tak cobane…..ning ana sarate….”, wangsulane Lasirin sawise nimbang-nimbang sawetara. Sidane dheweke nibakake pilihan kanggo kapetingane wong akeh. Dheweke ora tega marang nasibe kanca-kancane yen nganti padha kaliren krana wis ora payu tanggapan. Yen pancen ngono tenan, dheweke malah rumangsa dosa marang kanca-kancane ngethoprak kabeh.”Luwih becik sisa umur iki tak anggo aweh pitulung marang bala-bala mbabungan kae”, ngono dheweke mbatin kanggo nguwatake tekade.

“Sarate apa, Pak Dhe?” panyaute Pak Bandi karo wiwit katon padhang raine.
“Pisan…. aku gelem bali manggung…. yen wis waras…. lan ora nggigil maneh…. Dene angka loro…. saben ana tanggapan… aku kudu diparani…. lan dibocengake…. nganti tekan panggonane sing nanggap…ya mung kuwi sarate….”.
“Beres, Pak Dhe! Tak sanggupi. Wis saiki sampeyan ndang salin klambi. Ayo saiki uga tak gawa nyang dokteran!”

Ing wektu kuwi uga Lasirin klakon diobatake menyang dokter ing kutha sing ora patiya adoh saka desane. Seminggu sepisan Pak Bandi nlateni ngeterake Lasirin menyang dokter kuwi mau. Ganep patang minggu sajake Lasirin wis katon sehat. Mung wae dokter pesen yen Lasirin kudu gelem njaga awak lan mangane.. Ora kena melek bengi, lan ora kena ulah gawe sing abot-abot. Nanging Lasirin mbatin yen ora bakal bisa nuruti nasekate dokter iki. Yen dheweke klakon waras lan kudu mangkat manggung maneh, mesthine kudu melek bengi, penthalitan, lan pethakilan ing ndhuwur panggung, sing abote ora kalah yen ditandhing karo wong nggoluk ing sawah apa dadi manol kae.

Lasirin bali manggung. Rombongan kethoprak Mangun Budaya bali ngrembuyung. Laris manis. Lasirin saya ngedan anggone dhapuk dhagelan. Wis gilig tekade kanggo ngabdekake sisa umure. Ya mung krana ndhagel iki modhale kanggo lelabuh marang sapada-padane urip. Bisa nglancarake dalan pangane kanca-kancane.. Uga bisa aweh panglipur marang sagunging warga sakiwa-tengene. Dheweke krasa mongkok lan marem banget  atine. Bebasan kaya dene nyandhung kembang cempaka sawakul-wakul gedhene.

Kosok balen karo Pak Bandi. Sanadyan Mangun Budaya bali gumregah, nanging dheweke malah miris nyawang polah tingkahe Lasirin sing sajak kebablasen semangate. Yen nganti ana apa-apane Lasirin, dheweke sing rumangsa paling luput, jalaran ya dheweke sing ngojok-ojoki Lasirin supaya gelem manggung maneh.. Mula dheweke banjur mbudidaya supaya Lasirin bisa rada direm semangate sing tuwuh makantar-kantar kuwi. Carane, kala-kala Lasirim ora dikabari yen pinuju entuk tanggapan ngedhur tanpa leren. Sanadyan ta nggawa resiko gawe kuciwane wong sing nonton apa dene sing nanggap, kalamun kepeksa pentas kethoprakan tanpa Dhagelan Lasirin.
Ngepasi dina pengetan ari kamardikan  pitulas Agustusan ing kutha kecamatane, Kethoprak Mangun Budaya ditanggap. Amarga ing wewengkone dhewe tur kanggo pengetan ari kamardikan, mula Pak Bandi sarombongan ora mathok rega tanggapan kaya adate. Wis padha diniyati setengah sambatan. Mula Lasirin uga ora dijawil. Luwih-luwih sedina sadurunge, nalika Pak Bandi tilik menyang omahe Lasirin, sing ditiliki katon gumlethak lara. Pak Bandi saya mantep yen pentas ing kutha kecamatane ora perlu nganggo dhagelan Lasirin. Sanadyan penontone mengko bakal padha kuciwa ya ora dadi apa. Sing baku Lasirin kala-kala bisa ngaso sawetara. Marga ora dikabari mula ing bengi pentas kuwi Lasirin ora teka temenan.

Tabuh sanga bengi pentas diwiwiti. Nalika tiba giliran ekstra geculan sawise jejeran kedhatonan, sing didhapuk minangka dhagelan ora liya Damin sing adate dadi pasangane Lasirin. Bengi kuwi kepeksa dipasangi Pak Bandi dhewe. Kekarone padha mbudidaya gawe geculan lan jejogedan kanggo aweh panglipur marang penonton. Sing dikuwatirake Pak Bandi klakon temenan. Penonton padha kuciwa bareng diwenehi ngerti yen bengi kuwi Lasirin ora bisa aweh panglipur amarga lagi nandhang lara. Penonton ora bisa nampa alesan kuwi. Salah siji ana sing mbalangake gelas wadhah aqua menyang panggung. Banjur liyane padha kepancing niru, nyawatake apa wae sakecekele marang Pak Bandi lan Damin. Swasana dadi rame semrawut. Para punggawa Hansip padha nyoba melu nentremake penonton, nanging wis ora digubris babar pisan. Kabeh-kabeh padha nuntut supaya Lasirin bisa ditekakake ing bengi kuwi uga.

Keber ngarep dikerek mundhun. Pak Bandi lan Damin mudhun saka panggung bali menyang kombongan. Penonton ora mendha pangamuke malah saya ndadra. Bareng keber ngarep ditutup, para penonton padha genti ngrangsang para pengrawite.. Mula para penabuh gamelan nuli padha buyar mlayu ngadohi panggung.

“Merdekaaaa!….merdekaaaaa!..

..merdekaaaaa!” dumadakan ana swara saka tengah-tengahe penonton sing lagi padha ngamuk kuwi. Kabeh nuli katon mlengaki asaling swara. Ing tengah-tengahe penonton ana sawijining pawongan sing nganggo klambi kimplongan werna putih. Sirahe nganggo udheng abang putih saka dhuk Pramuka. Salah sijining penonton ana sing alok ngundang jenenge Lasirin. Pancen bener. Pawongan sing nganggo sandangan putih-putih lan nganggo udheng merah putih kuwi ora liya pancen Lasirin temenan.
“Hidup Lasirin! Hidup Lasirin! Hidup Lasirin” ngono sorake penonton kaya ambata rubuh. Lasirin kanthi trengginas munggah panggung sing kebere isih  durung dikerek munggah.
“Merdekaaaa!” aloke Lasirin karo ngepelake tangan tengene.
“Merdekaaaa!” kabeh penonton padha nyaut kanthi serempak, uga karo ngangkat tangane.

Keber bali dibukak. Lasirin klakon ndhagel, dikancani Pak Bandi lan Damin. Swasana malik grembyang. Penonton padha lega atine. Banjur kaya adate akeh sing padha nguncalake wungkusan isi rokok, lan amplopan kanggo nyawer. Siji baka siji layang pesenan lelagon saka penonton dileksanani. Penonton saya kranjingan. Jumbuh marang solah tingkahe Lasirin sing saya ngedan. Kaya dudu sabaene. Pak Bandi lan Damin wiwit kuwatir marang polahe Lasirin kanggo nglanggati panjaluke para penonton. Pak Bandi nyoba aweh sasmita marang Lasirin supaya anggone ndhagel dilereni luwih dhisik. Mengko yen wanci tengah wengi bisa ditutugake maneh. Nanging Lasirin ethok-ethok ora ngerti sasmita saka Pak Bandi. Terus lan terus anggone nglucu, nglawak, ndhagel, nembang, sinambi jogedan pethakilan.  Ing bengi iki ngepasi pengetan ari kamardikan, kaya-kaya dheweke kepengin ngesok glogok kabeh  kabisane kanggo aweh panglipur marang kabeh warga masyarakat.

Lan……meh kabeh padha njerit nalika Lasirin klakon nggeblag ing ndhuwur panggung. Pak Bandi lan Damin padha gugup mrepegi Lasiran sing tiba mlumah ora obah ora onthek kuwi. Kekarone banjur katon ngoyog-oyog awake Lasirin. Nanging Lasirin tetep ora kemruget babar pisan. Para paraga Mangun Budaya liyane uga banjur melu ngrubung Lasirin. Kabeh kepengin nyumurupi kahanane Lasirin sing sabenere. Nanging sajake pancen wis tiba marang pepesthene. Lasirin tumekeng pati nalika lagi ngayahi jejibahan sing wis diyakini. Apa ya dheweke wenang sinebut minangka sawijining pahlawan? Sing cetha dheweke ora bakal dikubur ing Taman Makam Pahlawan ngendi wae. Banjur nganti ganep pirang ndina jenenge Lasirin bakal dieling-eling dening para warga?  Kabeh ora padha ngerti, kajaba amung Gusti Kang Maha Suci.***

sumber http://sulang.wordpress.com/2009/05/01/cerita-cekak-%E2%80%9Clasirin-dhagelan-kethoprak%E2%80%9D/

Category: BUDAYA  | Leave a Comment
Kethoprak Oct 07

Kethoprak kalebu salah sawijining kesenian rakyat ing Jawa Tengah, ananging ugo bisa tinemu ing Jawa Wetan. Kethoprak wis nyawiji dadi budaya masyarakat Jawa Tengah lan biso ngasorake kesenian liyane, umpamane Srandul, Emprak lan sakliyane.

Bab lan Paragraf

[delikna]

//

[sunting] Sajarah

Kethoprak wiwit bebukane awujud dedolanan para priya ing dhusun kang lagi nganaake lelipur sinambi nabuh lesung kanthi irama ana ing waktu wulan purnama ndadari, kasebut Gejog. Ana ing tembe kaering tembang bebarengan ing kampung /dusun kanggo lelipur . Sak teruse ana tambahan kendhang, terbang, lan suling, mula wiwit saka iku kasebut Kethoprak Lesung, kira-kira kadadeyan ing tahun 1887. Sak banjure ana ing tahun 1909 wiwitan dianaake pagelaran Kethoprak kanthi paripurna/lengkap.

Pagelaran Kethoprak wiwitan kang resmi ing ngarsane masyarakat/umum, yakuwi Kethoprak Wreksotomo, dipandegani dening Ki Wisangkoro, sing mandegani kabeh para pria. Carita kang dipagelarake yaiku : Warsa – Warsi, Kendana Gendini, Darma – Darmi, lan sapanunggalane.

Sawise iku pagelaran Kethoprak sansaya suwe dadi lan apike lan dadi klangenane masyarakat, utamane ing tlatah Yogyakarta. Ing kadadeyan sak wise Pagelaran Kethoprak dadi pepak anggone carita lan ugo kaering gamelan.

[sunting] Jinis

Anane gegayutan karo pagelaran “teater” para narapraja, mula pagelaran Kethoprak, bisa dibedakke mengkene :

  • Kotekan Lesung : awujud awal mulane Kethoprak lan dadi winih ing tembe mburi dadi pagelaran Kethoprak.
  • Kethoprak Lesung Wiwitan : wiwitane saka kotekan Lesung ana tari-tarian lan jangkep karo carita , panguripane para tani .
  • Kethoprak Lesung : Amujudake pagelaran jangkep lan nganggo carita rakyat kaering gamelan kaya ta gendang, suling, terbang lan lesung. Iki kang bakal lan lahire pagelaran Kethoprak.
  • Kethoprak Gamelan : Wiwitan saka Kethoprak Lesung, dijangkepi karo carita Panji lan ageman ‘mesiran’ ( Baghdad ).
  • Kethoprak Gamelan Pendopo : carita-caritane ngemungake carita Babad, dipagelarake nganti seprene . Pagelaranne ana ing panggung tanpa payon, nanging wis nyedhaki ana ing Gedhung/panggung , yaiku kasebut Kethoprak Pendapa ( Pagelarane ana ing ‘Pendopo‘).
  • Kethoprak Panggung : Iki pagelaran Kethoprak ingkang pungkasan , yoiku Kethoprak kang di pagelarake ana ing panggung kanti carita campur, awujud carita rakyat, sejarah, babad uga carita adaptasi saka ing nagari manca ([[Sampek Eng Tay’’, Maling saka Bagdad lan sapanunggalane ).

Saiki bisa dipirsani Kethoprak Panggung ana ing tlatah Jawa Tengah lan Jawa Wetan. Pagelarane dadi profesional kanthi amungut bayaran karcis , ugo kanggone para nayaga (pemain ) lan pradangga (penabuh gamelan ) kethoprak wis dadi panguripan. Tehnik pagelaran lan carita digawe luwih apik lan ditindaake kanthi teges lan tumemen. Conto mau bisa dipirsani ana ing Kethoprak “Siswo Budoyo” saking Tulung Agung, Jawa Wetan kang wis misuwur ana ing ngendi wae, dadi klangenane masyarakat.

[sunting] Isi carita

Rupa-werna carita pagelaran Kethoprak umpama carita rakyat, dongeng, babad, legenda, sejarah lan adaptasi saka nagari manca bisa uga migunaake swasana Indonesia, contone karya Shakespeare : Pangeran Hamlet utawa Sampek Eng Tay. Carita-carita baku: Darma-Darmi, Warsa-Warsi, Kendana-Gendini, Abdul Semararupi (crita Menak), Panji Asmarabangun, Klana Sewandana (crita Panji), Ande-ande lumut, Angling Darma, Roro Mendut, Damarwulan, Ranggalawe, Jaka bodo.

Carita klangenan masyarakat bisa arupa carita pahlawanan, paperangan , carita nglempengake kabeneran biasane ing akhir carita sing gawe bebener, jujur lan baik antuk kamenangan.

Ageman para nayaga pemain di padaake karo carita kang dipagélarake, . Biasane nganggo ageman para Narapraja Jawa wektu jaman kerajaan biyen. Umpama Pangeran Wiroguna, Agemane ngangga Priyayi Jawa Pangeran saka tlatah Jawa Tengah ( Jogaakarta ), Semono uga para prajurit. Nanging ana uga ageman kang arupa simbolis ,umpama Piyantun Wicaksana aweni ageman cemeng , Piyantun suci awerni agemman pethak, ingkang kendhel agemane abang. Carita Baghdad agemane kasebuat “Mesiran” nganggo ageman sutra. Agemen Wayang wong uga ana gegayutan karo Kethoprak, utamane Kethoprak pesisran tlatah Jawa sisih pesisir Lor. Umpamane carita Angling Darma, Menak Jingga/Damarwulan.

Uga ana ageman kasebut basahan, yokuwi ageman kejawen ananging cinampur ing liyan bisa arupa ageman batik, lan beskap uga surban (biasane nganggo uga jubah). Ageman basahan iki biasane ana ing carita Menak utawa carita para wali/para ulama Islam ing sajerone praja.

Sing dadi ciri wancine Kethoprak : Carita kanthi para nayaga/pemain , kaering tabuhan (gamelan) ,Ageman tembang kang dadi tetenger kethoprak . Rembugan uga biasa nganggo tembang ,dadi tembang bisa mujudake dadi pangiring adegan, dialog, monolog ( rerasan dewe) utawa dadi narasi.

Wondene unining gamelan kanggo ngeringi tembang, adegan, ilustrasi swasana carita, swasana dramatik, kang mbedaake adegan siji lan sijine,
Kagem para maos sing kepingin midhangetake kethoprak ing format mp3 bisa ngundhuh ing kene http://apdnsemarang.wordpress.com/dagelan-ludruk-ketoprak/

[sunting] Perangkat pengiring

Kendang, saron, ketuk, kenong, kempul lan gong bumbung utawa gong kemada. Gamelan jangkep biasane nganggo suling utawa terbang. kanthi tambahan keprak.

Para nayaga kethoprak biasane pinter anggone “akting” uga kudu pinter nyanyi & nari .

Para pradangga gamelan, bebarengan karo sinden (waranggono),ngeringi irama gamelan kethoprak.

Senadyan sing dienggo basa Jawa nanging kudu nganggo “unggah-ungguh” basa. bisa nganggo Jawa biasa (ngoko), basa krama, lan Krama inggil.

Ing wektu saiki, ana ing wolak waliking jaman, kethoprak uga duwe “improvisasi” kanthi wujud dagelan kethoprak. Umpamane awujud Dagelan lan Kethoprak Humor ana ing siaran Radio lan televisi. Carita bakune padha nanging dipagelarake kanthi dagelan . mligi ngemungake lan nyenengake pamirsane.Bab paugeran nomer loro. Kethoprak mau biasane wis ora nganggo unggah ungguh basa lan tatakrama, sing baku bisa gawe geguyu.Carita lan basa ora nganggo paugeran baku. Mula bisa kasebut Kethoprak ora jangkep.

sumber :http://jv.wikipedia.org/wiki/Kethoprak

Category: BUDAYA  | Leave a Comment
Angklung Oct 07

Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Daftar isi

[sembunyikan]

//

[sunting] Asal-usul Angklung

Anak-anak bermain angklung.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

[sunting] Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

[sunting] Angklung Dogdog Lojor

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.

[sunting] Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

[sunting] Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.

[sunting] Buncis

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle…, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (19081984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Angklung

Category: BUDAYA  | Leave a Comment
Berba Puji Aksi Rooney & ‘Tiga Assist’nya Oct 07

Manchester – Performa Wayne Rooney untuk Manchester United saat menundukkan Hull dipuji rekannya sendiri, Dimitar Berbatov. Dalam laga itu Rooney sumbang peran dalam seluruh gol yang hadir, termasuk ke gawang timnya sendiri.

Pada pertandingan yang dihelat di Stadion Kingston Communications, Senin (28/12/2009) lepas tengah malam WIB, MU berjaya atas tuan rumah. Skor 3-1 untuk ‘Setan Merah’ tercipta saat peluit akhir berbunyi.

Dalam prosesnya, kemenangan itu dibuka oleh gol Rooney sesaat sebelum turun minum. Sialnya, di babak kedua si penyerang asal Inggris membuat kesalahan fatal yang bikin lawan bisa menyamakan kedudukan.

Akan tetapi Rooney tak lantas bermuram durja dan tenggelam dalam kecewa. Aksinya setelah itu membuat pemain lawan menceploskan bola ke gawang sendiri untuk membuat MU unggul lagi.

Terakhir, Rooney juga membuka peluang dan mengirimkan umpan kepada Berbatov yang lantas menceploskan bola untuk menandai kemenangan 3-1 buat MU. Dari penampilan tersebut, tak ayal Berbatov habis-habisan menyanjung Rooney.

“Wayne tampil luar biasa untuk kami,” puji Berbatov di situs resmi MU.

“Kami juga bergurau di ruang ganti bahwa dia sebenarnya mencatatkan tiga assist atas namanya! Dia bangkit setelah gol balasan lawan dan membuat gol kedua dan ketiga,” lanjut si penyerang Bulgaria.

Melihat penampilan tandemnya di lini depan tersebut, Berbatov pun kian yakin bahwa Rooney akan menjadi motor MU dalam mengejar Chelsea dan mempertahankan gelar Liga Primer Inggris.

“Jika dia bisa terus bermain seperti yang kami tahu maka aku pikir tak ada yang akan dapat menghentikan dia. Dia masih muda dan masa depannya terbentang luas,” tandas Berba.

MU kini tertinggal dua angka saja dari Chelsea yang masih memuncaki klasemen dengan poin 42 hasil dari 19 laga.
( krs / roz )


sumber:  http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2009/12/28/103207/1266734/72/berba-puji-aksi-rooney-tiga-assistnya

Category: OLAHRAGA  | Leave a Comment
Wayang Oct 07

Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.

Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.

Pertunjukan wayang di setiap negara memiliki teknik dan gayanya sendiri, dengan demikian wayang Indonesia merupakan buatan orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya dan dalang yang luar biasa.

Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) dipentaskan pula.

Wayang, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu “Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)”.

Category: BUDAYA  | Leave a Comment
MEMBACA KARAKTER ORANG LEWAT TULISAN TANGAN Oct 07

Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpenmu dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karaktermu?  Berikut penjelasan secara garis besarnya.

♣ Tekanan

Dari kuat atau ringannya tekanan tulisan seseorang kita dapat mengetahui karakter orang tersebut. Bisa kamu perhatikan dengan memperhatikan bekas goresan dibalik kertas.

Tekanan yang kuat:

Orang yang tulisannya tebal hingga menimbulkan bekas coretan dibalik kertas biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon. Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan.

Tekanan yang ringan:

Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh

♣ Ukuran

Tulisan besar

Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan.

Tulisan kecil

Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri

♣ Kemiringan

Miring ke kanan

Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif.

Miring ke kiri

Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif  selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri.

Tegak lurus

Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpenmu dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karaktermu?  Berikut penjelasan secara garis besarnya.

♣ Tekanan

Dari kuat atau ringannya tekanan tulisan seseorang kita dapat mengetahui karakter orang tersebut. Bisa kamu perhatikan dengan memperhatikan bekas goresan dibalik kertas.

Tekanan yang kuat:

Orang yang tulisannya tebal hingga menimbulkan bekas coretan dibalik kertas biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon. Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan.

Tekanan yang ringan:

Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh

♣ Ukuran

Tulisan besar

Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan.

Tulisan kecil

Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri

♣ Kemiringan

Miring ke kanan

Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif.

Miring ke kiri

Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif  selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri.

Tegak lurus

Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan perasaanya. Tidak suka diatur dan mempertimbangkan sesuatu lebih ke pikiran dari pada perasaan.

Category: BUDAYA  | Leave a Comment
kemiskinan Oct 06

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

  • Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
  • Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
  • Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.